Topiksumut.id, MEDAN – Salman Al Farici merupakan seorang pemuda asal Rantau Parapat, yang kini usai menimba ilmu pada tahap perguruan tinggi lewat Program Studi Antropologi Sosial di Universitas Sumatera Utara (USU).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Selama masa studinya, ia tidak hanya bersinar di ruang-ruang kelas, tetapi juga keluar dan berkecimpung di banyak hal, termasuk kegiatan sukarelawan.

Memegang teguh pendidikan, Salman terus membawa nilai tersebut dalam kegiatannya. Salah satunya, dengan bergabung di Kuliah Tak Gentar (KTG), sebuah wadah yang bergerak di bidang pendidikan.

Bantuan pendidikan ini diperuntukkan bagi siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), yang berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, tetapi tidak memiliki biaya untuk melakukan bimbingan belajar atau les.

Melansir dari etos-id.net, KTG berada di bawah naungan beasiswa ETOS ID dan Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa yang bertujuan untuk memfasilitasi siswa-siswi yang berasal dari sekolah marjinal (minim akses dan informasi).

Tujuannya agar dapat lolos mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur ujian berbasis tes, melatih soft skill, dan menanamkan value yang mendukung terbentuknya kemandirian siswa.

Salman bergabung di KTG sejak tahun 2023 hingga 2024. Saat itu, ia dipercayai sebagai Manager of Human Resources (HR) pada periode 2023-2024, yang bertugas untuk mencari anak-anak Indonesia yang cocok, pantas, dan tepat untuk diberikan pantas mendapatkan kesempatan bimbel gratis melalui KTG.

Proses ini sangat krusial, karena KTG didanai senilai puluhan juta rupiah, sehingga harus tepat menyasar pada anak-anak yang kurang mampu dan tidak memiliki biaya untuk les atau melanjutkan lesnya ke perguruan tinggi.

Selain itu, Salman juga harus memastikan operasionalnya berjalan lancar.

Sebagai HR, Salman menyatakan tantangan terbesarnya justru terletak pada sulitnya mencari orang-orang yang ingin diberikan beasiswa ini. Ketepatan penerima beasiswa ini juga menjadi tantangan bagi Salman dan tim.

“Walaupun beasiswa ini dibuka bagi seluruh anak Indonesia yang kurang mampu untuk diberikan les selama satu semester sebelum UTBK [sekarang SNBT], justru sulit sekali menemukan yang tepat untuk menerimanya,” ungkap Salman.

Selain itu, tantangan juga berasal dari kurang aktifnya penerima beasiswa yang terkadang tidak mengikuti les, sering menghilang, dan harus dihubungi berkali-kali.

Salman menyatakan bahwa mereka memfasilitasi pembelajaran secara intensif, mentoring dengan kakak asuh, hingga biaya yang maksimal.

Meski begitu, perjalanannya ini terasa bermakna bagi Salman. KTG mengajarkannya untuk melihat pendidikan dari ranah yang lebih luas, soal satu fase yang sering terlupakan, yaitu anak-anak yang sedang beranjak dari kelas tiga SMA ke perguruan tinggi.

Ada banyak yang bercita-cita ingin kuliah, tetapi tidak bisa atau tidak mendapatkan resource untuk mendapatkan bimbel.

“Jangan pernah pilah-pilih bidang pendidikan yang harus kita diperjuangkan. Karena banyak anak di luar sana yang bahkan untuk bimbel aja tidak tahu, untuk sekadar menambah jam pelajaran saja mereka tidak mengerti. Sekolah pun dianggap hanya sebagai sekolah saja,” tegasnya. (red)