Topiksumut.id, JAKARTA – Ketua Umum DPP PNPI, Syamsul Rizal, menilai warisan pemikiran dan kebudayaan Sultan Ternate Mudaffar Sjah tidak semestinya ditempatkan sebatas romantisme sejarah kesultanan.
Warisan itu harus dibaca sebagai kekayaan intelektual Nusantara yang mengandung nilai ketuhanan, kemanusiaan, kepemimpinan, persatuan dan tanggung jawab sosial.
Dalam perspektif kebangsaan, nilai-nilai Moloku Kie Raha dapat menjadi salah satu sumber etika kultural untuk memperkuat kehidupan Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.
Menurut Syamsul Rizal, salah satu pintu memahami kedalaman kebudayaan tersebut adalah ungkapan “Toma Ua Hang Moju” dan falsafah “Jou Se Ngofa Ngare.” Literatur sejarah mengenai Ternate mencatat Toma Ua Hang Moju dalam rangkaian ungkapan filosofis yang berkembang dalam tradisi kesultanan dan proses penerimaan Islam.
Kajian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga mencatat ungkapan tersebut dalam pembahasan mengenai perkembangan Islam di Ternate, terutama dalam tradisi pemikiran yang dikaitkan dengan masa Sultan Zainal Abidin.
Jou Se Ngofa Ngare mempunyai lapisan makna yang lebih dalam daripada hubungan politik antara penguasa dan rakyat. Dalam pemaknaan spiritual, Jou menunjuk kepada Tuhan dan Ngofa Ngare kepada hamba; dengan demikian manusia ditempatkan sebagai makhluk yang keberadaan, kekuasaan dan tindakannya tidak terlepas dari pertanggungjawaban kepada Sang Pencipta.
Sumber mengenai kebudayaan Ternate juga mencatat pandangan Sultan Mudaffar Sjah bahwa falsafah tersebut telah hidup secara turun-temurun sejak masa pra-Islam, kemudian memperoleh pemaknaan yang selaras dengan pandangan ketauhidan setelah Islam berkembang di Moloku Kie Raha.
Bagi Syamsul Rizal, di sinilah warisan Sultan Mudaffar Sjah memperoleh relevansi kuat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kekuasaan dalam perspektif kebudayaan tidak boleh dipahami sebagai hak tanpa batas, melainkan amanah yang dibatasi nilai moral dan kewajiban terhadap rakyat.
Ketika konsep Jou Se Ngofa Ngare mengalami pemaknaan sosial, hubungan itu juga dapat dibaca sebagai etika relasi pemimpin dan masyarakat.
Penelitian mengenai nilai lokal dan demokrasi di Ternate bahkan menemukan bahwa penguatan nilai tersebut berkaitan dengan pemaknaan hubungan pemimpin (Jou) dan rakyat (Ngofa Ngare) dalam budaya politik lokal dan kehidupan demokratis.
“Indonesia membutuhkan kemajuan, tetapi kemajuan tidak boleh membuat bangsa kehilangan akar peradabannya. Moloku Kie Raha mengajarkan bahwa manusia, pemimpin, rakyat, adat dan kehidupan sosial terikat oleh tanggung jawab moral. Karena itu, kekuasaan harus menghadirkan kemaslahatan, keadilan dan penghormatan terhadap martabat manusia,” tegas Syamsul Rizal.
Dalam konteks negara modern, nilai budaya tersebut tentu tidak menggantikan konstitusi maupun hukum positif, tetapi dapat menjadi modal etik dan sosial yang memperkuat pelaksanaan Pancasila, terutama Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, musyawarah serta keadilan sosial.
Warisan Moloku Kie Raha juga menunjukkan bahwa kebudayaan lokal dan identitas kebangsaan tidak harus dipertentangkan. Sejarah Maluku Utara memperlihatkan masyarakat kepulauan ini berkembang melalui perjumpaan panjang antara adat, Islam, perdagangan rempah dan hubungan dengan berbagai bangsa.
Kajian mengenai masyarakat Kesultanan Ternate menggambarkan adanya perpaduan antara tradisi lokal dengan nilai Islam, sekaligus karakter budaya yang mampu berinteraksi dengan unsur-unsur dari luar tanpa serta-merta kehilangan identitasnya. Dalam kerangka Indonesia, pengalaman historis semacam ini merupakan modal penting untuk merawat Bhinneka Tunggal Ika.
Syamsul Rizal karena itu mengajak pemerintah, lembaga adat, perguruan tinggi dan generasi muda Maluku Utara untuk melakukan dokumentasi dan kajian akademik yang lebih serius terhadap pemikiran Sultan Mudaffar Sjah serta khazanah Moloku Kie Raha.
“Toma Ua Hang Moju dan Jou Se Ngofa Ngare jangan berhenti sebagai ungkapan yang kita banggakan dalam seremoni adat. Nilainya harus ditransformasikan menjadi etika kepemimpinan, pendidikan karakter dan kesadaran kebangsaan.
Dari Moloku Kie Raha kita tegaskan bahwa menjadi Indonesia tidak berarti meninggalkan akar budaya; justru dari kekayaan nilai daerah itulah Indonesia memperoleh kedalaman peradabannya,” pungkas Ketum DPP PNPI Syamsul Rizal. (red)



