Topiksumut.id, MEDAN – Persoalan transportasi perkotaan tidak hanya berkaitan dengan kemacetan, tetapi juga menyangkut aksesibilitas, lingkungan, dan kebutuhan mobilitas masyarakat.
Di tengah tantangan tersebut, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu bagian penting dalam mendorong perubahan menuju sistem transportasi yang lebih berkelanjutan.
Hal inilah yang menjadi perhatian Muaz Alfattah Fadhani, mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Sumatera Utara (USU), melalui Transgo Medan.
Komunitas ini bergerak dalam edukasi publik, advokasi, dan kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya transportasi publik serta pengurangan emisi dari sektor transportasi.
Bagi Muaz, persoalan transportasi di Medan membutuhkan perhatian bersama. Menurutnya, penataan angkutan kota dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan penggunaan BRT Mebidang.
Ia mengusulkan agar angkutan kota tetap beroperasi dengan diarahkan menjadi angkutan pengumpan atau feeder yang melayani jalan-jalan kecil yang tidak dapat dijangkau bus BRT.
“Angkotnya tetap beroperasi, tetapi masuk ke jalan-jalan yang tidak bisa dilalui BRT Mebidang,” jelasnya.
Selain persoalan integrasi, Muaz juga melihat keterbatasan informasi sebagai tantangan dalam penggunaan transportasi publik, termasuk bagi wisatawan yang berkunjung ke Medan.
Berdasarkan pengamatan Transgo di lapangan, masih terdapat wisatawan yang belum mengetahui rute bus, akses menuju destinasi wisata, hingga cara kembali ke penginapan.
Padahal, transportasi publik memiliki potensi untuk mendukung pariwisata kota. Destinasi seperti Istana Maimun dan Tjong A Fie dapat lebih mudah dijangkau apabila tersedia layanan dan informasi transportasi yang memadai.
Upaya Muaz dalam mendorong transportasi berkelanjutan juga diperkuat melalui keterlibatannya dalam program Future Leaders in Sustainable Transport yang diselenggarakan WRI Indonesia di Jakarta pada 2026.
Selama sembilan hari, program tersebut memberikan pembelajaran mengenai transportasi berkelanjutan, transisi energi, dan upaya menekan emisi dari sektor transportasi.
Peserta juga diminta merancang proyek percontohan yang dapat diterapkan di daerah masing-masing.
Dalam kesempatan tersebut, Muaz memilih edukasi dan advokasi sebagai fokus proyek untuk Kota Medan. Gagasan tersebut kemudian dijalankan melalui berbagai kegiatan Transgo Medan, seperti edukasi melalui media sosial, interaksi langsung dengan masyarakat, serta pembagian peta transportasi umum.
Bagi Muaz, penyampaian informasi menjadi langkah penting untuk membantu masyarakat mengenali pilihan transportasi yang tersedia. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan dapat mempertimbangkan transportasi publik sebagai bagian dari kebutuhan mobilitas sehari-hari.
Meski demikian, ia mengakui bahwa gerakan yang dilakukan Transgo Medan masih memiliki keterbatasan. Menurutnya, perubahan kebiasaan masyarakat tidak dapat dibangun hanya oleh satu komunitas, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
“Untuk mendukung perubahan, kita perlu gerakan yang bersifat kolektif. Tidak bisa hanya satu organisasi yang menggerakkan minat masyarakat untuk menggunakan BRT Mebidang,” ujarnya.
Selain menjalankan kegiatan bersama Transgo Medan, Muaz juga terpilih sebagai delegasi Medan dalam forum Youth City Changers yang diinisiasi Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) pada 2026.
Forum tersebut mempertemukan pemuda dari berbagai kota di Indonesia untuk bertukar gagasan mengenai pembangunan kota berkelanjutan.
Melalui forum ini, Muaz memperoleh perspektif mengenai perbedaan persoalan perkotaan dan pentingnya mengadaptasi solusi dari daerah lain sesuai kebutuhan masing-masing kota.
Ia menilai pengembangan transportasi di Medan perlu mempertimbangkan karakteristik wilayah, termasuk kondisi jalan yang relatif sempit di sejumlah kawasan.
Karena itu, pengembangan angkutan pengumpan menjadi salah satu gagasan yang dinilai relevan untuk memperluas jangkauan transportasi publik.
Komitmennya dalam isu tersebut juga terlihat melalui karya jurnalistik berjudul “Dari Halte ke Harapan: Jalan Panjang Mebidang Menuju Kota Rendah Emisi”.
Liputan mengenai BRT Mebidang itu berhasil meraih Juara I Olimpiade Jurnalis Muda 2026 yang diselenggarakan BaleBengong bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia.
Bagi Muaz, pembangunan transportasi berkelanjutan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran dalam mengubah pola mobilitas, termasuk dengan mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
“Jangan jadikan penggunaan kendaraan pribadi sebagai bentuk utama,” tegasnya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang terlibat dalam mendorong penggunaan transportasi publik.
Kedepan, Transgo Medan juga berharap dapat memperluas kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dan komunitas lain untuk menghadirkan kegiatan edukasi serta advokasi yang lebih luas.
Melalui gerakan tersebut, Muaz ingin mendorong agar transportasi publik tidak hanya dipandang sebagai alternatif, tetapi menjadi bagian penting dari pembangunan kota yang lebih mudah diakses, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. (red)



