Topiksumut.id, BINJAI – Laporan dugaan penganiayaan terhadap seorang murid di SMA Negeri 2 Binjai yang dilakukan oleh seorang oknum guru sudah mendarat di Polres Binjai.
Guru olahraga sekaligus Pembantu Kepala Sekolah (PKS) Bidang Kesiswaan, Yudhi Setiawan dituding orang yang melakukan dugaan penganiayaan tersebut.
Namun hal itu dibantah Yudhi saat dihadirkan Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Binjai, Juliana Br Sitepu ketika wartawan melakukan upaya konfirmasi langsung.
“Tidak ada penganiayaan, kalau saya mau dikroscek sama polisi saya pun berani,” ujar Yudhi, Sabtu (26/9/2026).
Informasi yang diperoleh wartawan, Yudhi diduga melakukan penganiayaan pada, Rabu (16/9/2026) lalu. Namun Yudhi menjelaskan pada saat itu ia tak masuk sekolah karena sakit.
“Hari Rabu, 16 September 2026 saya tidak masuk ke sekolah. Saya sakit dua minggu, dan ini baru selesai operasi gigi,” ucap Yudhi.
Yudhi pun mengaku tak terima dengan tudingan tersebut. Dan mengaku belum menerima surat panggilan dari pihak kepolisian untuk dimintai keterangan.
“Saya pun gak terima juga dituduh gitu, sementara saya dua minggu gak masuk. Saya belum ada dapat surat panggilan,” kata Yudhi.
“Kalau saya tuntut balik boleh itu? Gak senang juga saya. Karena kan saya sudah dengar semua di kantor guru. Jujur saja karena institusi sekolah saya gak berani melapor atau menuntut balik. Bisa saja saya tuntut balik, namanya inikan pencemaran nama baik,” sambungnya.
Bahkan Yudhi mengaku ia keluarga besar Polri.
“Kebetulan keluarga saya polisi semua. Seharusnya kalau ada surat (laporan) polisi saya dipanggil,” kata Yudhi.
Yudhi pun menguraikan, ketika guru diduga melakukan kesalahan, kabar atau tindakan yang dilakukan begitu cepat.
Berbanding terbalik jika murid dengan murid yang melakukan kesalahan, meski sampai berdarah-darah tetapi berakhir damai.
“Ketika kami diginikan, gak ada yang melindungi kami, kesal juga jadinya,” ucap Yudhi.
“Maaf ya, anak sekarang gak bisa pelan (dikasih tau), tapi mungkin karena wajah saya guru olahraga kesiswaan tempramen, dikira saya yang mukul, saya gak terima juga,” tambahnya.
Gitupun Yudhi menjelaskan jika murid yang diduga menjadi korban penganiayaan adalah orang yang baik, dan pendiam.
“Ini ya sampai semua guru-guru di sini sama anak ini gak tanda, orangnya pendiam,” ujar Yudhi.
Yudhi menambahkan jika kabar dugaan penganiayaan terhadap murid di SMA Negeri 2 Binjai ternyata sudah beredar di tengah-tengah masyarakat.
“Semalam sore ada tukang gembung malam-malam bilang gini, ada guru SMA Negeri 2 mukul, guru olahraga badannya tegap tinggi. Saya mikir juga badan saya pendek cebol dan mana ada guru olahraga yang tinggi tegap, berartikan berasumsi itu jadi ambigu,” kata Yudhi.
Dikabarkan sebelumnya, kabar menggemparkan kembali terjadi di dunia pendidikan, khususnya di SMA Negeri 2 Binjai.
Pasalnya oknum guru yang mengajar di sekolah tersebut berinisial Y, dilaporkan ke Polres Binjai atas dugaan penganiayaan terhadap siswa.
Laporan itu tertuang dengan nomor: LP/B/510/IX/2026/SPKT/Polres Binjai/Polda Sumatera Utara.
Informasi dirangkum, peristiwa dugaan penganiyaan yang menimpa korban, diduga terjadi di lingkungan sekolah, Jalan Padang, Kelurahan Rambung Dalam, Kecamatan Binjai Selatan, Kota Binjai, Sumatera Utara, Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 16.15 WIB.
Belum diketahui persis, motif dugaan penganiayaan ini terjadi.
Namun akibag dugaan tersebut, korban sempat dilarikan ke rumah sakit atas dugaan penganiayaan tersebut.
Kanit PPA Polres Binjai, Iptu Yon Edi tak berkomentar panjang ketika dikonfirmasi soal ini.
“Satu pintu di Humas,” ujar Edi, Jumat (25/9/2026).
Kasi Humas Polres Binjai, Iptu Mimpin Ginting juga memberikan jawaban normatif.
“Kita tunggu saja hasil penyelidikan Satreskrim sesuai dengan prosedur hukum,” ucap Mimpin.
Terpisah, wartawan melakukan pendalaman dengan mendatangi SMA Negeri 2 Binjai. Setibanya di sekolah, Kepala SMA Negeri 2 Binjai, Juliana br Sitepu kaget mendengar informasi dugaan penganiayaan yang diduga dilakukan oleh oknum guru.
“Saya belum tau ini kejadiannya, sumpah. Biasanya kalau ada kejadian, langsung pada tau,” kata Juliana.
Mendapat informasi yang baru diketahuinya, Juliana memanggil guru lain. Kepada wartawan, kabar dugaan penganiayaan yang diduga dilakukan oknum guru itu telah menjadi perbincangan hangat.
Namun karena belum pasti, kabar itu tak sampai ke telinga Juliana.
“Atas informasi ini, coba akan saya panggil gurunya,” ucap Juliana.
Sepengetahuan Juliana, korban masuk dalam kategori siswa baik, tidak bandal. Korban merupakan pindahan dari salah satu sekolah negeri di Kota Medan dan masuk saat duduk di bangku XI.
Kini, korban duduk dj bangku sekolah kelas XII.
“Kalau kejadiannya Rabu (16/9/2026), Kamis (17/9/2026) memang tidak masuk dan Jumat (18/9/2026) masuk (korban), tapi tidak terlihat tanda-tanda (kalau diduga dianiaya),” ujar Juliana.
Namun demikian, korban saat ini tidak masuk sekolah karena sakit. Surat sakit dari korban juga dikeluarkan oleh RS Bidadari.
“Dari Senin (21/9/2026) sampai sekarang tidak masuk. Memang ada rencana, mau dijenguk, karena kami tidak tau sakit apa,” ucap Juliana. (red)



