Topiksumut.id, MEDAN – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik pada anak, menyusul aktivitas erupsi gunung berapi di sejumlah wilayah Indonesia.
Anak-anak menjadi kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan akibat menghirup partikel abu vulkanik, terutama pada sistem pernapasan.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), mengatakan paparan abu vulkanik dapat memicu berbagai gangguan pernapasan akut pada anak.
“Gejala yang paling umum adalah iritasi saluran napas yang menyebabkan bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya,” kata Wahyuni dalam keterangan tertulis, Senin (7/9/2026).
Abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dengan debu biasa. Material ini terdiri dari pecahan batuan, mineral hingga kaca vulkanik berukuran sangat halus dengan permukaan tajam dan abrasif.
Partikel tersebut dapat menggores dan mengiritasi saluran pernapasan ketika terhirup.
Selain itu, abu vulkanik dapat disertai gas iritan seperti sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO) yang berpotensi memperparah iritasi serta memicu peradangan pada sistem pernapasan.
Risiko lebih tinggi dihadapi anak-anak dengan kondisi tertentu, termasuk bayi dengan riwayat displasia bronkopulmonal, anak dengan penyakit jantung bawaan, asma, alergi maupun penyakit paru kronis.
Wahyuni meminta orang tua tidak menganggap remeh perubahan kondisi pernapasan anak setelah terpapar abu vulkanik.
“Kami mengingatkan orang tua untuk tidak menganggap remeh gejala yang muncul. Jika anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan pernapasan seperti napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” ujarnya.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K), mengatakan perlindungan terhadap anak harus menjadi prioritas dalam situasi paparan abu vulkanik.
“Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa dan masa depan anak-anak kita. Di tengah ancaman abu vulkanik yang nyata, kita wajib mengutamakan perlindungan mereka dengan tindakan preventif yang tegas dan cepat. Jangan menunggu sampai gejala muncul, karena setiap tarikan napas anak kita saat ini adalah investasi untuk kesehatannya di masa depan,” kata Piprim.
Untuk mengurangi risiko paparan, UKK Respirologi IDAI merekomendasikan agar anak sebisa mungkin diungsikan menjauh dari lokasi terdampak letusan.
Apabila tidak memungkinkan, anak disarankan tetap berada di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup rapat, terutama ketika kualitas udara di lingkungan masuk kategori buruk atau ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) berada di atas 100.
Orang tua juga perlu memperhatikan sirkulasi udara di rumah. Peralatan yang menghisap udara dari luar, termasuk AC, sebaiknya dimatikan atau diatur menggunakan mode sirkulasi ulang atau recirculation/closed vent.
Penggunaan kipas angin juga sebaiknya dihindari karena dapat membuat abu yang sudah mengendap di lantai maupun furnitur kembali beterbangan dan terhirup.
Saat membersihkan abu vulkanik, anak harus dijauhkan dari lokasi pembersihan. Abu dianjurkan dibersihkan menggunakan lap atau kain basah.
Lantai maupun benda yang tertutup abu dapat terlebih dahulu dibasahi agar partikel tidak kembali beterbangan.
Jika anak terpaksa beraktivitas di luar rumah, IDAI menyarankan penggunaan masker khusus anak bagi mereka yang berusia lebih dari dua tahun. Masker harus dipasang dengan baik dan anak perlu diajarkan cara menggunakannya.
Kacamata juga dapat digunakan untuk melindungi mata dari partikel abu. Sementara pakaian tertutup dianjurkan untuk mengurangi kontak langsung abu dengan kulit anak.
Setelah beraktivitas di luar, anak sebaiknya membersihkan diri dan mengganti pakaian yang telah terpapar abu.
Khusus anak dengan riwayat asma atau alergi saluran pernapasan, orang tua diminta memastikan obat rutin maupun obat darurat yang biasa digunakan selalu tersedia.
Paparan asap tambahan di dalam rumah, seperti asap rokok dan asap dapur, juga harus dihindari karena dapat semakin mengiritasi saluran pernapasan.
Selain perlindungan dari paparan langsung, IDAI mengingatkan orang tua memastikan anak mendapatkan cukup air putih untuk mencegah dehidrasi serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang guna membantu menjaga kondisi tubuh.
IDAI menegaskan anak harus segera dibawa ke rumah sakit apabila mengalami sesak napas yang ditandai peningkatan laju napas, tarikan dinding dada ke dalam, maupun hasil pemeriksaan saturasi oksigen menggunakan oksimeter jari menunjukkan angka di bawah 94 persen. (red)



