Topiksumut.id, DELISERDANG – Warga Desa Pematang Lalang, dikejutkan oleh fenomena alam tak biasa berupa kemunculan gumpalan busa putih raksasa yang menyelimuti sepanjang aliran sungai di kawasan Kabupaten Deliserdang.
Buih busa tebal tersebut tampak mengapung memenuhi permukaan air dan mengalir deras menuju muara sungai Percut yang membelah kawasan Jalan M. Yusuf Jintan, Pematang Lalang, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
@topik_sumut Viral di media sosial sungai besar Percut dipenuhi banyak buih putih mirip bongkahan salju. Masyarakat yang heboh turut merekamnya dan menduga bahwa buih itu merupakan limbah pabrik. Banyak masyarakat takut karena melihat banyak ikan yang mulai mabuk. Namun banyak pula yang mengutip ikan-ikan itu karena semakin mudah ditangkap. Seorang nelayan bernama Zainal Abidin (64) membenarkan peristiwa itu. Mereka kaget bongkahan buih putih datang mengikuti arus air di dekat sampan-sampan mereka. “Iya benar ada buih kemarin. Bergerak sampai ke muara sana, lama-lama air pasang itu, lalu habis. Habis ditiup angin juga, terbang dia,” kata Zainal Abidin saat dijumpai Kompas di Sungai Percut, Desa Percut, Deli Serdang, Rabu (1/7/2026). Ia menjelaskan bahwa bongkahan buih mulai datang sampai memenuhi sungai jam 3 dini hari, Selasa (30/6/2026). Siangnya pukul 11.00 WIB barulah buih mulai hilang. “Cerita-cerita orang itu buih ini dari limbah. Tapi kita nggak tahu di mana pabriknya. Di seluruh dusun desa ini kena,” cerita Zainal. Kehadiran bongkahan buih yang memenuhi sungai ini membuat dirinya dan warga lainnya was-was. Ia sempat mengurungkan niat turun ke sungai, karena mengira bahwa buih mengandung zat kimia berbahaya. “Kalau warga sini, memang was-was, memang apa penyebabnya ini kita gak tahu. Karena, kita mandi nanti kan terpengaruh juga. Tapi alhamdulillah nggak berpengaruh sejauh ini,” jelasnya. Warga lain bernama Andi juga sempat terkejut setelah bangun pagi pukul 06.00 WIB. Ia dan masyarakat lain keluar rumah melihat kondisi sungai Percut depan rumahnya yang sering menjadi tempat kapal bersandar itu. “Kaget, kami pikir itu awan jatuh atau bahkan salju. Asli, mirip kali sama salju,” aku Andi. Menurut keterangannya, ini merupakan peristiwa yang jarang terjadi. Namun dalam tahun ini, seingatnya pernah terjadi peristiwa serupa. “Tahun ini juga kalau nggak salah, juga terjadi peristiwa yang sama. Tapi buihnya gak sebanyak ini. Kali ini banyak kali. Kayaknya ini limbah dari pabrik,” sebutnya. (*) #topiksumut #viral #deliserdang #limbah #sumaterautara
Fenomena ini mulai terlihat sejak Selasa (30/6/2026) dini hari.
Naasnya, zat polutan yang menyerupai salju tersebut tidak hanya mencemari ekosistem jalur sungai, melainkan juga meluap dan masuk ke areal persawahan produktif milik warga di tiga desa sekaligus, yakni Desa Pematang Lalang, Desa Percut, dan Desa Cinta Rakyat.
Seorang nelayan lokal, Zainal Abidin (64), membenarkan adanya aliran gumpalan busa berwarna putih dalam volume yang cukup besar di permukaan sungai Percut tersebut. Menurut dugaannya, buih busa itu berasal dari buangan limbah industri.
“Iya benar ada buih kemarin. Bergerak sampai ke muara sana, lama-lama air pasang itu, lalu habis. Habis karena ditiup angin juga. Ya kata orang, cerita-cerita orang itu dari limbah. Tapi kita enggak tahu dari mana pabriknya,” ucap Zainal Abidin saat diwawancarai Tribun Medan, Rabu (1/7/2026).
Kemunculan limbah busa misterius dalam jumlah masif ini tak pelak membuat masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran sungai menjadi dirundung rasa was-was dan khawatir akan dampak jangka panjang terhadap lingkungan.
Kendati demikian, Zainal memastikan bahwa hingga saat ini belum ada laporan mengenai warga atau petani yang terserang penyakit akibat kontak langsung dengan sisa-sisa gumpalan busa tersebut.
“Penyakit kulit enggak ada. Karena airnya kan bertukar (pasang surut). Sebentar lagi naik airnya dan kembali jernih,” beber pria yang sudah berprofesi sebagai nelayan selama kurang lebih 40 tahun ini.
Meski pencemaran lingkungan ini telah berimbas pada sektor pertanian dan perikanan di tiga desa (Pematang Lalang, Percut, dan Cinta Rakyat), warga mengaku belum ada menerima tindakan ataupun sosialisasi dari instansi terkait.
Hingga saat ini, pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deli Serdang, khususnya Dinas Lingkungan Hidup, dilaporkan belum turun ke lapangan untuk melakukan uji sampel air maupun menyelidiki aktor utama atau pabrik yang membuang limbah tanpa diolah tersebut ke aliran sungai. (red)



