Topiksumut.id, BINJAI – Proyek perkuatan jembatan Sungai Bangkatan ruas Jalan Irian, Kecamatan Binjai Kota, Sumatera Utara, terus mendapat sorotan dari berbagai pihak.
Menurut Pengamat Sosial Lingkar Wajah Kemanusiaan (LAWAN) Institute, Abdul Rahim Daulay, pembangunan itu diduga sebagai bentuk perencanaan yang tidak matang.
“Saya menilai proyek perkuatan jembatan itu perencanaan yang tidak matang,” kata Rahim, Selasa (20/1/2026).
Lanjut Rahim, harusnya proyek penguatan jembatan itu tidak menimbulkan persoalan yang baru di tengah-tengah masyarakat.
“Proyek itu jangan malah menimbulkan persoalan baru karena aliran sungai yang sempit,” ucap Rahim.
Dikabarkan sebelumnya, Kepala Dinas PUTR Binjai, Wahyu Umara beberapa waktu lalu dikonfirmasi mengatakan akan melakukan pengecekan data dan lapangan.
“Coba akan saya cek data di kantor dan lapangan. Berhubung saya tiga hari ini masih ada urusan di rumah Sakit. Terima kasih atas pengertiannya,” kata Wahyu.
Sedangkan itu proyek perkuatan jembatan Sungai Bangkatan ruas Jalan Irian, Kecamatan Binjai Kota, Kota Binjai, Sumatera Utara, mendapat sorotan masyarakat.
Pasalnya melalui video yang beredar berdurasi 1 menit 36 detik yang diperoleh wartawan, masyarakat mempertanyakan pembangunan proyek yang menghabiskan dana Rp986 juta yang bersumber dari APBD Kota Binjai tahun 2025.
“Yang terhormat bapak wali kota binjai beserta jajaran, izin melaporkan pembangunan jembatan di wilayah Kelurahan Setia, Jalan Kapten Muslim, Simpang Irian, posisi (proyek) jembatan menjolok ke tengah aliran sungai,” ujar seorang pria di dalam video yang dilihat wartawan pada, Selasa (13/1/2026).
Lanjut pria itu, akibat proyek itu aliran Sungai Bangkatan menjadi sempit alias tinggal separuh.
“Jadi sungai ini menyempit tinggal separuh, sehingga akan menimbulkan banjir yang berlebihan di wilayah daerah Gang Balai dan sekitarnya,” kata pria itu.
“Sebelum dibangun (proyek) jembatan ini, air banjir akan surut sebelum 24 jam. Jika ini posisi aliran sungai yang lebih sempit, maka akan dipastikan surutnya banjir akan lebih lama dari biasanya,” sambungnya.
Maysarakat yang merekam kondisi aliran Sungai Bangkatan ini pun memohon kepada wali kota untuk meninjau ulang tentang pembangunan perkuatan jembatan itu.
Informasi yang diperoleh wartawan dari spse.inaproc.id proyek yang hampir menghabiskan dana Rp 1 miliar, dikerjakan oleh perusahaan berinisial CV VC yang beralamat di Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh.
Diketahui ada delapan peserta perusahaan yang mengikuti lelang proyek.
Namun hanya perusahaan CV VC yang satu-satunya perusahaan memberikan harga penawaran dan dinyatakan sebagai pemenang proyek.
Bahkan informasi yang diperoleh wartawan, proyek penguatan jembatan ini diduga milik oknum aparat penegak hukum (APH). (Red)








