Topiksumut.id, BINJAI – Murid SMA Negeri 2 Binjai yang diduga dianiaya guru olahraga mengalami depresi berat dan tekanan mental tinggi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kondisi itu dibeberkan oleh Aidil Syahputra (46) ayah kandung murid ketika di wawancarai wartawan.

“Anak saya sekarang mengalami depresi berat tekanan mental sangat tinggi dan saya masih fokus dengan pemulihannya,” ujar Aidil saat diwawancarai wartawan, Senin (28/9/2026).

Aidil pun menjelaskan bagaimana mula anak sulungnya diduga dianiaya oleh guru olahraga.

“Awalnya pada Rabu (16/9/2026), anak saya pulang dari sekolah dengan kondisi yang agak lain berbeda dengan biasanya. Saya sudah tanya apa yang terjadi, tapi anak saya diam hanya bilang gakpapa. Setelah itu menjelang malam hari kondisi anak saya demam, sehingga Kamis (17/9/2026) tidak masuk sekolah,” ucap Aidil.

Aidil pun membawa anaknya untuk berobat. Pada, Jumat (18/9/2026) pagi sekitar pukul 06.00 WIB, Aidil pun menyuruh anaknya untuk pergi sekolah.

Tapi menurut Aidil keadaan anaknya masih berbeda, namun tetap pergi berangkat ke sekolah.

“Ketika pulang sekolah kondisi anak saya lebih diam lagi, dan saya tanya kenapa dia juga tidak menjawab. Pada Sabtu (19/9/2026) pagi dia menatap saya ketakutan, sebenarnya dari Jumat malam sudah ketakutan. Saat saya berbicara dengannya, bahasa anak saya ini mulai gak nyambung, dia memegangi perut, keluhkan rasa pening di kepala dan meringis,” kata Aidil.

Pada Sabtu malam, kondisinya memburuk, sehingga Aidil pun melarikan anaknya ke salahsatu rumah sakit di Kota Binjai.

Dokter sempat mendiagnosa jika anaknya mengalami sakit lambung.

“Anak saya dikasih obat dan anak saya gak mau dirawat inap. Pada, Minggu (20/9/2026) siang saya ke rumah mertua saya. Awalnya anak saya gak mau ikut, namun akhirnya anak saya minta ikut. Kebetulan mertua perawat di puskesmas. Sesampai di sana anak saya diperiksa dan analisa neneknya. Menurut neneknya ada pembengkakan di usus sehingga diobati lah anak saya,” ucap Aidil.

“Kami mulai curiga saat anak saya tambah hilang ingatannya, jadi kami tanyai anak kami, videonya ada. Di situ dia mengakui bahwasanya dia di pukul. Namun dia tidak cerita siapa yang memukul dan kapan waktunya. Setelah itu kami larikan dia lagi ke rumah sakit terdekat,” sambungnya.

Aidil pun meminta pihak rumah sakit agar anaknya di MRI. Hasilnya ada benturan di kepala, bengkak rusuk kiri, dada kiri, ada memar di kaki dan pinggang belakang, dan mengeluhkan ulu hati yang membuat susah bernapas.

“Dan ternyata hasil dari screening juga ada pembengkakan di ususnya. Pada Senin (21/9/2026) malam, saat menjalani perawatan di rumah sakit, anak saya sudah menggunakan selang karena udah gak bisa ngomong dengan utuh, hanya bisa ngangguk dan menjerit,” ujar Aidil.

“Kemudian karena banyak tetangga dan kerabat yang datang untuk menjenguk, di tanyakan siapa yang melakukan pemukulan itu dan disitu terbongkar semua,” tambahnya.

Guru Olahraga SMAN Negeri 2 Binjai sekaligus Pembantu Kepala Sekolah (PKS) Bidang Kesiswaan, Yudhi Setiawan dituding orang yang melakukan dugaan penganiayaan tersebut.

Namun hal itu dibantah Yudhi saat dihadirkan Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Binjai, Juliana Br Sitepu ketika wartawan melakukan upaya konfirmasi langsung.

Informasi yang diperoleh wartawan, Yudhi diduga melakukan penganiayaan pada, Rabu (16/9/2026) lalu. Namun Yudhi menjelaskan pada saat itu ia tak masuk sekolah karena sakit.

Yudhi pun mengaku tak terima dengan tudingan tersebut. Dan mengaku belum menerima surat panggilan dari pihak kepolisian untuk dimintai keterangan.

“Saya pun gak terima juga dituduh gitu, sementara saya dua minggu gak masuk. Saya belum ada dapat surat panggilan,” kata Yudhi.

“Kalau saya tuntut balik boleh itu? Gak senang juga saya. Karena kan saya sudah dengar semua di kantor guru. Jujur saja karena institusi sekolah saya gak berani melapor atau menuntut balik. Bisa saja saya tuntut balik, namanya inikan pencemaran nama baik,” sambungnya.

Bahkan Yudhi mengaku ia keluarga besar Polri.

“Kebetulan keluarga saya polisi semua. Seharusnya kalau ada surat (laporan) polisi saya dipanggil,” kata Yudhi.

Sementara Yudhi telah dilaporkan ke Polres Binjai atas dugaan penganiayaan terhadap siswa.

Laporan itu tertuang dengan nomor: LP/B/510/IX/2026/SPKT/Polres Binjai/Polda Sumatera Utara.

Kanit PPA Polres Binjai, Iptu Yon Edi tak berkomentar panjang ketika dikonfirmasi soal ini.

“Satu pintu di Humas,” ujar Edi, Jumat (25/9/2026).

Kasi Humas Polres Binjai, Iptu Mimpin Ginting juga memberikan jawaban normatif.

“Kita tunggu saja hasil penyelidikan Satreskrim sesuai dengan prosedur hukum,” ucap Mimpin. (red)