Topiksumut.id, BINJAI – Hampir dua bulan, jenazah Rasdy Fauzi (39) Warga Negara Indonesia (WNI) yang wafat di Kamboja, tiba dirumah duka yang beralamat di Jalan Nanas I, Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Binjai Barat, Kota BinjaI, Sumatera Utara, Selasa (30/6/2026).
Informasi yang diperoleh wartawan, sebelum tiba di rumah duka, sekitar pukul 08.00 WIB jenazah Rasdy terlebih dahulu tiba di Bandara Internasional Kualanamu.
Setelah proses penyerahan termasuk administrasi selesai, keluarga pun membawa jenazah ke rumah duka agar langsung dimakamkan.
Serine ambulan milik Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) pun terdengar dari kejauhan. Sekitar pukul 11.10 WIB, jenazah Rasdy pun tiba di rumah duka di Jalan Nanas.
Isak tangis keluarga mulai terdengar. Jenazah Rasdy pun dibawa turun dari ambulan.
Tampak Kiki Tresia (30) istri almarhum tak kuasa menahan tangis. Begitu juga keluarga lainnya yang menangis di atas peti Rasdy.
Keluarga pun meminta agar peti jenazah dibuka. Alhasil dengan peralatan yang ada, keluarga pun membuka peti untuk melihat wajah Rasdy untuk yang terakhir kalinya.
Kiki saat diwawancarai wartawan sebelum berangkat ke tempat pemakaman umum, mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kepulangan suaminya dari Kamboja.
“Saya berterimakasih kepada media yang sudah memberitakan dan kepala semua pihak yang telah menolong kepulangan jenazah suami saya dari Kamboja,” ujar Kiki.
“Dari pihak KBRI Bapak Kolonel Agung Budi yang juga sudah membantu kepulangan jenazah suami saya,” sambungnya.
Lanjut Kiki, hampir dua bulan jenazah suaminya baru tiba di Kota Binjai, Sumatera Utara.
“Ini sudah hampir dua bulan,” kata Kiki.
Sedangkan itu, jenazah Rasdy akan dimakamkan di pemakaman umum yang tak jauh dari rumah duka.
“Kemarin kami sudah panjatkan doa pada 3 dan 40 hari setelah meninggal dunia suami saya. Dan nanti di bulan Agustus 2026 kami akan memanjatkan doa 100 hari kepergian suami saya,” ucap Kiki.
Kiki pun menjelaskan, pemulangan jasad suaminya ke tanah air terbilang tidak gampang.
“Proses pemulangan suami saya tidak bisa di bilang gampang. Karena kami tidak ada dibantu oleh Pemerintah Kota Binjai. Kami dibantu dari Ibu Diah Pitaloka untuk mempermudah segala urusan biaya, dan berkas agar jasad suami bisa pulang ke Indonesia,” tutup Kiki.
Diketahui sebelumnya, karena tuntutan ekonomi, Rasdy Fauzi harus berangkat ke Kamboja untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
Namun setelah satu tahun tiga bulan, tepatnya pada Minggu (3/5/2025) Rasdy meninggal dunia di kos-kosannya yang berada di Poipet, Kamboja.
Dikabarkan Rasdy meninggal dunia akibat serangan jantung mendadak. (red)



