Topiksumut.id, LANGKAT – Selain menelan 13 korban jiwa, banjir yang merendam 16 kecamatan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, juga merusak rumah warga, ternak, fasilitas umum, sekolah, pertanian, dan rumah ibadah.
Akibat banjir yang merendam sejak, Rabu (26/11/2025) hingga sampai saat ini, merusak 10.444 rumah, 17.299 ternak, 91 fasilitas umum, 81 sekolah, 4.677 hektar sawah, dan 55 rumah ibadah.
Dari belasan ribu rumah yang rusak, sebanyak 2.873 rumah yang berada di Kecamatan Tanjung Pura. Kemudian sebanyak 1.955 rumah rusak di Kecamatan Besitang.
Artinya jumlah rumah yang rusak akibat banjir paling banyak, terdapat di dua kecamatan tersebut.
Sedangkan itu, belasan ribu ternak yang mati akibat banjir terdiri dari sapi, domba, ayam, itik, ikan lele dan gurami.
Falitas umum yang rusak diantaranya jalan dan jembatan.
Data itu semua diperoleh wartawan dari laporan data terdampak kejadian bencana alam banjir Kabupaten Langkat per tanggal 9 Desember 2025, pukul 15.00 WIB.
Kepala BPBD Langkat, Muhammad Ansyari melalui keterangan tertulisnya menjelaskan beberapa kendala mengatasi banjir di Kabupaten Langkat.
Diantaranya sarana prasarana untuk penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat sangat minim.
“Tidak memiliki sarana prasarana komunikasi yang memadai. Personil dan Satgas Rescue pada saat terjadi bencana tidak memadai,” kata Ansyari, Rabu (10/12/2025).
Lanjut Ansyari, logistik sulit didistribusikan karena armada yang terbatas.
“Sulitnya akses jalan menuju lokasi banjir di beberapa desa Kecamatan Tanjung Pura. Dan karakteristik masyarakat dan situasi kondisi masyarakat yang tidak kondusif,” ucap Ansyari.
Sedangkan itu, Kecamatan Tanjung Pura dan Hinai, saat ini terdapat beberapa titik rumah masyarakat yang masih terendam banjir. Berbanding dengan 14 kecamatan lainnya yang saat ini banjir sudah surut.
“Kondisi di Tanjung Pura dan Hinai, masih terdapat tinggi debit airnya mencapai 50-100 sentimeter,” kata Ansyari.
Sedangkan itu upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Langkat sampai saat ini diantaranya, memberikan bantuan berupa sembako, bahan pangan dan sandang.
“Kemudian pemerintah mendistribusikan air bersih, menyalurkan bantuan logistik melalui air dan darat. Serta pemeriksaan disetiap posko pengungsian,” kata Ansyari.
Tak hanya itu, gotong royong juga dilakukan masyarakat dan pemerintah, yaitu menutup tanggul Sungai Besilam yang jebol sepanjang 15 meter di Dusun X Mekar Sari, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Wampu.
“Sementara itu status tanggap darurat bencana diperpanjang mulai sejak 3-16 Desember 2025,” kata Ansyari. (Red)








