Topiksumut.id, DAIRI – Keluarga kepala desa Parbuluan VI, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, mengungsi ke Polres Dairi.
Mereka mengungsi sejak hari Sabtu (8/11/2025) kemarin, pasca perusakan rumah kepala desa oleh sejumlah massa dengan melempari kaca menggunakan batu.
Romulo Nadeak, selaku anak dari kepala desa itu menyebut bahwa perusakan tersebut dilakukan oleh massa sekitar 120 orang.
“Mereka melempari kaca rumah kami, pintu dirusak, dan ada satu sepeda motor dinas yang juga ikut rusak, ” kata Romulo saat diwawancarai di Mapolres Dairi, Minggu (9/11/2025).
Romulo mengaku tidak mengetahui apa motif para pelaku menyerang rumah milik keluarga Nadeak itu. Dirinya menduga, perusakan ini dipicu karena konflik dengan PT Gruti, yang selama ini memang sedang panas.
“Mereka kan menolak PT Gruti. Kenapa harus rumah kepala desa yang dirusak. Kan enggak nyambung, ” katanya.
Sementara itu, Topik Sumut berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak yang menjadi dalang dari perusakan tersebut.
Menurut Pangihut Sijabat, perusakan yang dilakukan itu ternyata bukan buntut penolakan PT Gruti. Pangihut menyebut, salah seorang keluarga kepala desa itu disebut melakukan pengancaman dan intimidasi kepada seorang ibu bernama Albina Limbong, dan anaknya, Yeti br Sitanggang (22).
“Ada seorang ibu beserta anaknya yang masih gadis, pulang dari ladang. Karena kebetulan hujan, (mereka) melewati rumah keponakan kades, yang bernama Cristopel Naibaho. Lalu si cristopel keluar dari, rumahnya bawa sepeda motor beserta golok keadaan tanpa sarung, dan mengancam si ibu dan anak dengan mengatakan mereka harus di bunuh hari ini, ” kata Pangihut.
Setelah mengancam, Cristopel itu disebut lari kerumah kades. Kemudian ibu dan anak itu lari dengan kondisi ketakutan ke posko Pangihut dan melaporkan kejadian tersebut.
“Di posko orang posisi sedang ramai, dan langsung saling telepon dan gerak ke rumah kades ingin menanyakan keberadaan si Topel, ” jelasnya.
Akan tetapi, istri kepala desa itu dikatakan langsung menyiram warga dengan kopi panas.
“Akhirnya warga merasa di lecehkan oleh ketua PKK desa, warga marah dan melakukan hal tersebut, ” tutup Pangihut. (Alv)








