Topik Sumut
  • Beranda
  • Nasional
  • Kriminal
  • Daerah
  • Politik
  • Peristiwa
  • Internasional
  • Olahraga
  • Lainnya
No Result
View All Result
Topik Sumut
  • Beranda
  • Nasional
  • Kriminal
  • Daerah
  • Politik
  • Peristiwa
  • Internasional
  • Olahraga
  • Lainnya
No Result
View All Result
Topik Sumut

Asas lex Favor Reo KUHAP Nasional Buah Pemikian Siapa?

Redaksi by Redaksi
11/02/2026
in Daerah
0
Asas lex Favor Reo KUHAP Nasional Buah Pemikian Siapa?

Fresnel J Manik, S.H.,M.H. adalah Kanit Reskrim Polsek Sidikalang Kota Polres Dairi alumni Magister ilmu Hukum Universitas Darma Agung.

Share on FacebookShare on Whatsapp

Opini

Penulis : Fresnel J Manik, S.H.,M.H. adalah Kanit Reskrim Polsek Sidikalang Kota Polres Dairi alumni Magister ilmu Hukum Universitas Darma Agung.

Baca Juga

BPJS Ketenagakerjaan Salurkan Jaminan Kematian dan Beasiswa kepada Ahli Waris PPPK Paruh Waktu

BPJS Ketenagakerjaan Salurkan Jaminan Kematian dan Beasiswa kepada Ahli Waris PPPK Paruh Waktu

29/03/2026
223 Calhaj Asal Kota Binjai Akan Berangkat ke Tanah Suci, Tergabung Dalam Kloter 1

223 Calhaj Asal Kota Binjai Akan Berangkat ke Tanah Suci, Tergabung Dalam Kloter 1

29/03/2026

Topiksumut.id, SIDIKALANG – Abad ke-3 masehi merupakan masa transisi yang sangat dramatis dalam sejarah hukum Romawi. periode ini menandai berakhirnya zaman klasik hukum romawi yang dianggap sebagai puncak pencapaian intelektual hukum dan dimulainya periode hukum Pasca-Klasik yang lebih birokratis.

Perkembangan hukum pada masa ini sangat dipengaruhi oleh kekacauan politik yang dikenal sebagai Krisis Abad Ketiga. Berikut adalah penjabaran poin-poin pentingnya:

1. Peristiwa Terpenting: Constitutio Antoniniana (212 M) Pada tahun 212 M, Kaisar Caracalla mengeluarkan maklumat yang memberikan kewarganegaraan Romawi kepada hampir seluruh penduduk merdeka di wilayah kekaisaran.

Dampak Hukum: Sebelumnya, hukum romawi (ius civile) hanya berlaku untuk warga negara Roma, sementara penduduk provinsi tunduk pada hukum lokal atau ius gentium, untuk upaya penyetaraan atau kesamaan diberlakukan unifikasi hukum, Dengan maklumat ini, hukum Romawi menjadi hukum tunggal yang berlaku secara universal di seluruh wilayah kekaisaran yang sangat luas. Hal ini memicu proses “provinsialisasi” hukum Romawi, di mana unsur-unsur lokal mulai bercampur dengan hukum pusat.

2. Berakhirnya Peran Yuris (Ahli Hukum) Klasik Awal abad ke-3 adalah masa hidup para yuris besar terakhir seperti Papinianus, Ulpianus, dan Paulus. Mereka adalah penasihat hukum kaisar yang pendapatnya memiliki kekuatan hukum dalam perkembangannya terjadi.

ADVERTISEMENT

Kematian Tradisi: Setelah pembunuhan Ulpianus pada tahun 223 M, tradisi pemikiran hukum yang kreatif dan mandiri mulai merosot. Fokus hukum bergeser dari interpretasi ahli hukum ke kehendak mutlak Kaisar dan menandai tonggak awalnya munculnya Asas Lex Favor Reo di era para yuris inilah muncul pemikiran bahwa dalam keraguan, keputusan hukum harus lebih menguntungkan terdakwa.

3. Transformasi Sumber Hukum (Kekuasaan Absolut) Seiring dengan ketidakstabilan politik, sumber hukum mengalami pergeseran besar, Konstitusi Imperial dalam bentu Undang-undang tidak lagi lahir dari senat atau majelis rakyat, melainkan sepenuhnya berasal dari perintah kaisar (constitutiones principum) kemudian terjadinya Birokratisasi yaitu hukum mulai dikelola oleh birokrasi pusat yang kompleks di bawah kaisar, bukan lagi oleh para praktisi hukum independen.

4. Pengaruh krisis abad ketiga kekaisaran mengalami perang saudara, invasi dan inflasi hebat. Hal ini memaksa lahirnya aturan-aturan hukum yang sangat keras, terutama di bidang ekonomi dan militer dengan langkah langkah yang diambil seperti Hukuman yang Lebih Berat.

Muncul pembedaan perlakuan hukum antara kelas atas (honestiores) dan kelas bawah (humiliores). Kelas bawah sering kali mendapatkan hukuman fisik yang jauh lebih brutal untuk pelanggaran yang sama, Hukum Pajak: Untuk membiayai pasukan, aturan pajak diperketat, yang nantinya berujung pada reformasi besar di bawah Kaisar Diokletianus pada akhir abad tersebut, Pembedaan antara Honestiores dan Humiliores pada abad ke-3 Masehi adalah salah satu bukti paling nyata dari memudarnya prinsip kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law) yang sebelumnya sempat dijunjung tinggi dalam tradisi hukum Romawi.

Adapun perbedaan antara kedua kelas tersebut dapar dilihat dari Definisi Kelas Sosial. Dalam sistem hukum ini, status sosial seseorang menentukan “kualitas” hukuman yang diterimanya Honestiores (“yang terhormat”).

Kelompok elit yang terdiri dari senator, penunggang kuda (equites), pejabat kota, perwira militer, dan pemilik tanah besar sedangkan Humiliores (“yang rendah”): Rakyat jelata, pedagang kecil, buruh tani, dan penduduk merdeka yang tidak memiliki posisi dalam pemerintahan perbedaan dalam aspek hukum pidana di mana diskriminasi terlihat paling mencolok. Untuk kejahatan yang sama, hukumannya sangat berbeda.

Ada beberapa alasan mengapa hukum Romawi pada abad ke-3 M berubah menjadi sangat diskriminatif adalah Stabilitas Politik.

Kaisar membutuhkan loyalitas kelas elit untuk menjaga stabilitas kekaisaran yang sedang dilanda perang saudara. Memberikan kekebalan hukum adalah “hadiah” bagi mereka, Efek Jera (Deterrence): Pemerintah percaya bahwa rakyat jelata (Humiliores) hanya bisa dikendalikan dengan rasa takut melalui hukuman yang kejam dan bersifat tontonan publik, Hierarki Militeristik.

Karena kaisar pada abad ke-3 sering kali adalah jenderal militer, mereka membawa logika militer ke dalam hukum sipil perwira diperlakukan dengan hormat, prajurit rendahan diperintah dengan disiplin keras, sistem ini merusak integritas hukum Romawi yang sebelumnya sangat logis.

Sistem kelas ini terus berlanjut hingga abad-abad berikutnya dan memengaruhi struktur feodal di Eropa pada Abad Pertengahan, di mana kaum bangsawan memiliki hukum yang berbeda dengan rakyat biasa., menariknya, asas Lex Favor Reo sering kali menjadi “benteng” terakhir bagi para Humiliores agar tidak dijatuhi hukuman yang melampaui batas kemanusiaan.

Mari kita ambil contoh kasus yang sangat umum pada masa itu. Tindakan Pemalsuan Dokumen atau Pencurian, bayangkan ada dua orang yang dituduh melakukan pemalsuan dokumen akta tanah di wilayah provinsi Romawi pada pertengahan abad ke-3 Masehi. Orang pertama adalah seorang Decurion (pejabat dewan kota/kelas Honestiores), dan orang kedua adalah seorang Penyewa Tanah (rakyat jelata/kelas Humiliores) dalam setiap tahap rakyat jelata akan mendapat siksaan dan keterangannya tidak bernilai sedangkan perlakuan akan berkebalikan kepada kelas Honestiores.

Masuknya agama Kristen sebagai agama resmi kekaisaran (dimulai dari masa Kaisar Konstantin pada awal abad ke-4) membawa perubahan mendasar dalam filsafat hukum Romawi, meskipun sistem kelas Honestiores dan Humiliores tidak langsung hilang begitu saja dengan adanya beberapa konsep yaitu Konsep Aequitas (Keadilan/Kesetaraan) Kristen Gereja membawa ajaran bahwa semua manusia adalah sama di hadapan Tuhan (equalitas ante Deum).

Hal ini mulai mengikis logika bahwa rakyat jelata boleh disiksa sesuka hati., Reformasi Hukuman: Hukuman-hukuman yang dianggap terlalu tidak manusiawi, seperti penyaliban (crucifixion) dan pertarungan gladiator, mulai dihapuskan karena dianggap menghina citra Tuhan dalam diri manusia selanjutnya pengaruh pada Lex Favor Reo tercermin dari Prinsip kasih sayang (clementia) mulai dimasukkan ke dalam hukum.

Hakim didorong untuk memberikan pengampunan atau hukuman yang lebih ringan jika terdakwa menunjukkan penyesalan. Namun pada masa itu muncul Episcopalis Audientia (Pengadilan Uskup) Salah satu perubahan paling radikal adalah diberikannya wewenang hukum kepada para Uskup, Jika seseorang merasa tidak mendapatkan keadilan di pengadilan sipil (yang mungkin masih diskriminatif terhadap Humiliores), mereka bisa membawa kasusnya ke Uskup, Pengadilan gereja ini cenderung lebih adil, tidak menggunakan siksaan, dan lebih mengutamakan rekonsiliasi daripada hukuman fisik.

Selanjutnya pada aba ke – 6 Lahir lah Corpus Iuris Civilis di bawah Kaisar Justinianus I. Ia mengumpulkan seluruh hukum Romawi (termasuk pendapat Paulus dan Ulpianus dari abad ke-3) dan menyatukannya dalam satu kodifikasi besar Dalam kodifikasi ini, hak-hak individu mulai lebih dilindungi secara tertulis Meskipun perbedaan kelas sosial masih ada dalam kehidupan sehari-hari, secara hukum formal, batas antara elit dan rakyat jelata mulai memudar demi keseragaman hukum kekaisaran yang dikendalikan oleh gereja dan negara.

Warisan untuk Dunia Modern

Sejarah ini menunjukkan bahwa hukum yang kita miliki sekarang—seperti di Indonesia—adalah hasil evolusi panjang. Asas Lex Favor Reo yang dipraktekkan sekarang adalah “sisa” dari peradaban Romawi yang berhasil bertahan melewati masa-masa diskriminasi abad ke-3 dan diperkuat oleh nilai kemanusiaan di masa setelahnya tanpa adanya gejolak di abad ke-3 Masehi tersebut, mungkin prinsip perlindungan terhadap terdakwa tidak akan pernah dikembangkan sekuat sekarang.

Bila kita bandingkan secara sistematis Asas Lex Favor Reo Ini adalah titik temu paling jelas antara kedua sistem tersebut yaitu pada Romawi Abad ke-3: Muncul sebagai opini hukum (ius) dari yuris seperti Paulus untuk memberikan celah keadilan di tengah sistem yang kaku. Namun, penerapannya sering kali masih dipengaruhi oleh status sosial sedangkan Indonesia Saat Ini: Diadopsi secara tegas dalam Pasal 1 ayat (2) KUHP Lama dan Pasal 3 KUHP Baru (UU 1/2023). Di Indonesia, ini adalah kewajiban konstitusional jika hukum berubah menjadi lebih ringan, hakim wajib menggunakan aturan baru tersebut untuk terdakwa tanpa memandang status sosial ?

Honestiores vs Humiliores yang ada pada abad ke -3 dalam strata sosial dan perlakukan hukum harus benar dihapuskan, equality before the Law harus belaku sama pada setiap sendi masyarakat dan profesi, baik aparat penegak hukum pada setiap tingkatan tanpa adanya imunitas, aparat pertahanan, pers dan advokat dengan kesetaraan yang sama. (*)

Tags: Asas lex Favor ReoDairiIndonesiaKUHAPNasionalOpiniPolsek SidikalangSumatera UtaraSumut
Previous Post

Aksinya Terekam CCTV, Tersangka Pencurian Spesialis Rumah Kosong di Tapteng Diringkus Polisi

Next Post

Harga Sembako di Kota Binjai Stabil Jelang Puasa, Kecuali Cabai, Tomat, dan Minyak Goreng

Menarik Lainnya

BPJS Ketenagakerjaan Salurkan Jaminan Kematian dan Beasiswa kepada Ahli Waris PPPK Paruh Waktu

BPJS Ketenagakerjaan Salurkan Jaminan Kematian dan Beasiswa kepada Ahli Waris PPPK Paruh Waktu

29/03/2026
223 Calhaj Asal Kota Binjai Akan Berangkat ke Tanah Suci, Tergabung Dalam Kloter 1

223 Calhaj Asal Kota Binjai Akan Berangkat ke Tanah Suci, Tergabung Dalam Kloter 1

29/03/2026
Pungutan Parkir di RSUD Djoelham Gak Ada Izin Dinas Perhubungan Kota Binjai

Dishub Binjai Tanggapi Rencana Laporan Fraksi Gerindra ke Kejatisu Soal Dugaan Kebocoran Parkir

27/03/2026
Ketujuh Kalinya Pesek Orangutan di Langkat Berusia 38 Tahun Kembali Melahirkan

Ketujuh Kalinya Pesek Orangutan di Langkat Berusia 38 Tahun Kembali Melahirkan

26/03/2026
Next Post
Harga Sembako di Kota Binjai Stabil Jelang Puasa, Kecuali Cabai, Tomat, dan Minyak Goreng

Harga Sembako di Kota Binjai Stabil Jelang Puasa, Kecuali Cabai, Tomat, dan Minyak Goreng

Populer

  • Lelang Eselon II yang Diikuti Pejabat dari Luar Kota Binjai Timbulkan Pro dan Kontra

    Nasib THR Bagi Ribuan PPPK Paruh Waktu, Ini Kata Pemko Binjai

    148 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Ternyata Wanita Sexy yang Tabrak Warung di Pasar Kaget Kota Binjai Positif Narkoba

    117 shares
    Share 47 Tweet 29
  • Warga Tanah Seribu Tewas Dibunuh, Pelaku Utama Seret Nama Oknum Ketua OKP di Binjai

    102 shares
    Share 41 Tweet 26
  • Berikut Daftar 20 SPGG di Langkat dan di Kota Binjai yang Dihentikan Operasionalnya Oleh BGN

    90 shares
    Share 36 Tweet 23
  • Pria Tewas di Dalam Mobil di OG Hospital Kota Binjai, Ini Kronologinya dan Identitas Korban

    84 shares
    Share 34 Tweet 21

Rekomendasi

MA Tolak Kasasi Pemkab Langkat, Bupati Didesak Batalkan Pengumuman Seleksi PPPK Guru Tahun 2023

MA Tolak Kasasi Pemkab Langkat, Bupati Didesak Batalkan Pengumuman Seleksi PPPK Guru Tahun 2023

04/02/2026
Tim SAR Gabungan Temukan dan Evakuasi Anak Laki-laki yang Hanyut di Sungai Barumun

Tim SAR Gabungan Temukan dan Evakuasi Anak Laki-laki yang Hanyut di Sungai Barumun

01/06/2025
Topik Sumut

Portal berita online terpercaya yang menyajikan informasi terkini seputar Sumatera Utara dan Nasional.

E-mail: topiksumut2025@gmail.com

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi

© 2025 Topik Sumut - Powered by Sejasa Net

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Nasional
  • Kriminal
  • Daerah
  • Politik
  • Peristiwa
  • Internasional
  • Olahraga
  • Lainnya

© 2025 Topik Sumut - Powered by Sejasa Net