Topiksumut.id, BINJAI – Pemerintah Kota (Pemko) Binjai, Sumatera Utara, dituding pengecut karena cuma berani menggusur pedagang kecil.
Hal itu disampaikan oleh Anggota DPRD Binjai dari Fraksi Gerindra, Ronggur Simorangkir dalam menyikapi penggusuran bangunan liar yang telah dilakukan Satpol PP pada sejumlah titik.
“Fraksi Gerindra kecam aksi penggusuran pedagang kecil oleh Pemko Binjai. Wali kota jangan jadi pengecut, karena beraninya hanya dengan rakyat kecil,” ucap Ronggur, Rabu (8/4/2026).
Lanjut Ronggur, alibi penegakan peraturan daerah tidak adil ketika menyasar pedagang kecil.
Bahkan dengan dalih penataan kota, menurut Ronggur, pun tidak adil.
“Sementara, ada banyak tempat maksiat di Binjai yang juga melanggar Perda, merusak estetika kota dan merusak citra kota sampai hari ini tidak tersentuh oleh Pemko Binjai,” ujar Ronggur.
Ronggur menegaskan, Fraksi Gerindra buka tidak mendukung penegakan peraturan daerah. Hanya saja, penegakan aturan tersebut juga harus memprioritaskan sisi keadilan dan solusi, agar tidak terkesan tebang pilih dalam penegakan aturan.
Pedagang kecil di Jalan Bandung yang ditertibkan itu hanya mencari nafkah dengan cara halal untuk keluarganya.
Namun, dilakukan penggusuran dengan dalih penegakan perda dan penataan kota.
“Mereka berjuang sendiri, mereka pula yang diburu atas dasar aturan. Sementara, tempat maksiat menjamur di Binjai ini,” kata Ronggur.
“Belum lagi soal peternakan di Bhakti Karya sana, itu bagaimana? Pertanyaannya, kenapa Pemko Binjai tidak bertindak atas dasar aturan? Jangan gunakan kekuasaan untuk menindas rakyat kecil, itu pengecut namanya,” sambungnya.
Soal peternakan di Bhakti Karya, sudah menjadi pembahasan oleh kalangan legislatif. Bahkan, pimpinan dewan sudah memberi rekomendasi agar Pemko Binjai bertindak atas keresahan masyarakat terkait limbah peternakan yang diduga dibuang sembarang tersebut.
Ada puluhan peternakan di Binjai Selatan secara umum. Dari jumlah ini, hanya tiga disebut yang mengantongi izin.
Kepada Pemko Binjai, lanjut Ronggur mendorong agar fokus dulu mencari solusi dan kemudian bertindak.
“Bukan main gusur tapi belum ada solusi yang matang, itu namanya kita mengorbankan rakyat,” kata Ronggur.
“Fraksi Gerindra mengecam tindakan itu dan akan bersikap membela pedagang kecil,” tambahnya.
Terpisah, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Binjai, Ikhsan Siregar belum dapat berkomentar saat dikonfirmasi.
“Belum dapat terkonfirmasi, nanti akan kami sampaikan,” kata Ikhsan.
Dikabarkan sebelumnya, pembongkaran puluhan bangunan liar di Jalan Bandung, Kecamatan Binjai Selatan, Kota Binjai, Sumatera Utara, berjalan kondusif pada, Selasa (7/4/2026).
Meski berjalan kondusif, tangis Devi warga Rambung Dalam, sekaligus salahsatu pemilik bangunan liar pecah saat diwawancarai wartawan.
Amatan wartawan, wanita yang mengaku tim sukses Wali Kota Binjai, Amir Hamzah, bolak-balik memantau proses pembongkaran bangunan.
Bahkan Devi berulang kali merekam video dengan ponselnya, saat personel gabungan membongkar bangunan liar yang selama ini dipakainya untuk menjalankan usaha pangkas.
“Terbuka ya Pak Amir (wali kota), saya tim sukses Pak Amir yang bapak janjikan untuk memperjuangkan hak kami. Saya pedagang kecil Pak Amir, janji bapak mana untuk memperjuangkan kami,” ujar Devi sambil nangis sesenggukan.
Lanjut Devi, ia mempunyai dua orang anak yang masih harus dibiayai untuk sekolah.
“Nyatanya bapak membohongi saya. Kami kecewa dengan bapak, terus terang kecewa, dan saya sedih pak. Kenapa kami pedagang kaki lima yang bapak janjikan hak kami untuk bisa berjualan, membiayai anak-anak kami, nyatanya nihil. Janji itu bohong ya pak, bohong,” teriak Devi.
Usaha pangkas yang ditekuni Devi selama ini untuk kebutuhan hidup dan memperjuangkan nasib anaknya yang masih sekolah.
“Janji Pak Amir untuk memperjuangkan hak pedagang kaki lima, ternyata bohong,” kata Devi.
Gitupun Devi mengaku, ia menjalankan usaha pangkasnya sudah selama 10 tahun.
Devi menegaskan, Pemerintah Kota (Pemko) Binjai belum ada menyampaikan rencana relokasi untuk pedagang yang bangunannya dibongkar.
“Tidak ada disampaikan ke kami rencana untuk direlokasi. Kalaupun mau digusur, kasih lah kami tempat yang layak. Ternyata dibiarkan gini aja. Apa gak sedih. Memang ada surat pemberitahuan mau dibongkar, tapi tempatnya tidak disediakan,” ucap Devi.
Kemudian kekecewaan yang sama juga diungkapkan oleh pedagang Bunda Nasi Goreng.
“Saya sudah 30 tahun berjualan di sini. Cuma kita maunya dikumpulkan dulu, kompromi, jangan sepihak seperti ini, bagaimana solusinya. Ini enggak, cuma iming-iming aja,” ujar Bunda.
“Hari dibongkar, teruskan belakangan hari baru dikasih tempat. Mana dikasih tempat kalau udah seperti ini. Di sini banyak yang cari makan, ada yang bapaknya udah stroke. Di zalimi ini kami, adanya itu nanti bala untuk yang menzalimi,” tambahnya. (red)








