Topiksumut.id, LANGKAT – Nasib naas menimpa nelayan di Kelurahan Beras Basah, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
Pasalnya kapal nelayan ini hancur berantakan setelah menabrak tiang rig. Ironisnya, kejadian ini bukan pertama kalinya terjadi. Ada beberapa nelayan yang menjadi korban.
“Bukan saya saja, tapi ada sekitar 10 nelayan yang kapalnya rusak,” ujar Zulkifli, salahsatu nelayan yang kapalnya rusak, Sabtu (14/2/2026).
Zulkifli menceritakan pengalaman mengerikan saat kapalnya menghantam keras tiang rig.
Ditengah laut, dia harus berjuang guna menyelamatkan diri dari deburan ombak.
“Kurang lebih pukul 10 malam sampai jam 5 pagi kapal itu baru bisa lepas dari situ,” ucap Zulkifli.
Selama tujuh jam Zulkifli, harus bertaruh nyawa di tengah laut dalam kondisi kapal yang rusak akibat benturan besi tiang rig.
“Ada sekitar sembilan tiang rig yang tersebar di wilayah perairan tersebut,” ucap Zulkifli.
Setahu Zulkifli dan warga nelayan disana, jika perusahaan yang bergerak dibidang miyak dan gas (Migas) di Langkat adalah PT Pertamina.
Sehingga diharapkan ada solusi terbaik dari perusahaan agar tidak timbul korban-korban lain.
Tiang-tiang besi raksasa yang berdiri di tengah jalur perlintasan kapal nelayan itu dituding menjadi ranjau mematikan saat malam hari.
Masalah utama yang memicu kecelakaan berulang adalah tidak adanya lampu penerangan dan rambu-rambu di seputar lokasi pengeboran.
“Kalau malam hari saat cuaca buruk, tiang tersebut tidak terlihat sama sekali. Itu sangat membahayakan,” ucap Zulkifli, diamini beberapa warga yang keseharian melaut mencari ikan.
Padahal, lokasi berdirinya tiang rig tipe jack-up berada tepat di jalur keluar masuk kapal nelayan dan boat sewa. Sehingga kondisi ini harus jadi perhatian yang cukup serius.
Zulkifli membeberkan bahwa banyak rekan sejawatnya yang mengalami kecelakaan serupa namun tak berani melapor.
“Sering, Bang. Kapal nelayan itu sering nabrak di situ. Bahkan sampai kepalanya (haluan) copot, yang karam juga ada,” ucap Zulkifli.
Zulkifli dan para nelayan disana hanya meminta satu hal sederhana, pihak perusahaan memberikan tanda atau lampu yang layak.
“Mungkin mereka takut untuk melaporkan PNTI dan Kamlah. Jadi karena kapal saya yang kena, saya coba lapor untuk kepentingan bersama,” kata Zulkifli.
Humas Pertamina, Wahyu angkat bicara terkait kisruh Tiang Ring yang mengakibatkan kapal nelayan rusak. Menurut Wahyu, jika tiang rig yang disoal warga nelayan bukanlah milik PT Pertamina.
“Jadi sepertinya tidak ada kewenangan saya menyikapi permasalahan ini. Meski demikian, saya harus memberikan penjelasan jika pertamina perusahaan yang berdiri sendiri,” kata Wahyu.
Wahyu juga mengaku, memang ada tiga perusahaan yang bergerak di bidang migas di langkat dan salah satu adalah perusahaan PT EMP.
“Jadi perusahaan ini bukan dibawah naungan pertamina atau anak perusahaan,” ucap Wahyu.
Kini, para nelayan hanya bisa pasrah dan dihantui rasa was-was setiap kali harus melaut di malam hari demi mencari nafkah bagi keluarga.
Sebab, sejauh ini belum ada juga pihak berwenang melakukan pengadaan lampu navigasi dan penjagaan tiang rig. (Red)








